Tag: malaysia

Oktober??? Hmhm…. Horor (Part 2)

Oktober??? Hmhm…. Horor (Part 2)

Pasti kawan-kawan semua sudah tak sabar kan menanti kelanjutan seri tulisanku yang bertemakan Oktober Horor ini (kok ke-PD-an banget ya aku). Tak perlu dijelaskan lagi kenapa dibilang horor, karena jelas-jelas sudah ku ulas pada seri sebelumnya. Ok tanpa berbasa-basi, yuk ikuti keseruan cerita part kedua ini sama-sama.

IMG_20151105_125551
Gambar 1. Bersama Teman-teman Usai Penutupan Pembekalan

Kali ini cerita dimulai dari usai penutupan pembekalan tiga hari di Bandung. Seperti pada Gambar 1, aku dan teman-teman bersiap untuk kembali ke daerah masing-masing sebelum tiba saatnya untuk keberangkatan ke tempat tugas di Sabah Malaysia. Ku tak langsung pulang ke Gresik, daerah asal tercinta, tetapi diriku singgah terlebih dahulu ke Kampus UPI Bandung. Saat itu aku bersama rekan pendidik Sabah yaitu Ito (paling kiri di Gambar 1) menuju ke Kampus Bumi Siliwangi.

IMG_20151105_172151.jpg
Gambar 2. Bersama A’ Jajang dan Kang Asep di Kampus UPI

Saat tiba di Kampus UPI, kami ke tempat kostan A’ Jajang dan Kang Asep yang berlokasi di Kawasan Geger Kalong Girang, tak jauh dari kampus. Selanjutnya kami berempat menuju ke Icon Kampus Upi, yaitu bangunan putih bersejarah yang berdiri kokoh dengan dikelilingi danau nan cantik dan taman yang indah menawan (sebagaimana terpampang di Gambar 2). Pada gambar tesebut, tak tampak Ito (karena memang dia kebetulan fotografernya, hehehe). Diriku terlihat memakai jaket olahraga nuansa hitam dan sedikit polesan warna biru serta logo MU (Manchester United). Jaket yang ku kenakan itu ada kenangan tersendiri, yaitu kenang-kenangan dari saudaraku saat PPG dulu. Tahukah siapa gerangan dia? Penasaran tidak? (Pasti nggak bakalan lha, hheheh). Yap, ku kasih tau deh. Jaket MU, yang jadi jaket favoritku, itu ternyata adalah pemberian dari Mas Zaenal Saepul Arip, pemuda asli Sukabumi, Jawa Barat.

IMG_20151111_164729.jpg
Gambar 3. Persiapan Pengukuhan Pendidik Anak-anak Indonesia di Sabah Malaysia

Berikutnya langsung saja menuju detik-detik menuju keberangkatan ke Sabah Malaysia di Jakarta. Yes, Gambar 3 itu adalah usai Gladi Resik Pengukuhan Guru Pendidikan Dasar dan Menengah untuk Pendidikan Anak-anak Indonesia di Sabah Malaysia dan Mindanao Filipina Tahun 2015. Tampak tiga pemuda yang sama-sama gundul (bukan gundul pacul lho ya, lagu bah itu). Mahendra Septiawan dan Fathul Arifin, dua orang yang berada di samping kanan dan kiriku. Kami berkalungkan sabuk merah istimewa saat itu.

IMG_20151111_202201
Gambar 4. Pengukuhan Guru Sabah Malaysia dan Mindanao Filipina di Jakarta

Malam pengukuhan sebelum keberangkatan ke Sabah Malaysia pun dilakukan. Hadir para pejabat Kemdikbud dalam momen spesial itu (Gambar 4). Kami sama-sama mengenakan kemeja putih, dasi, kopiah hitam, sabuk merah, dan logo merah putih. Sungguh semuanya terlihat cakep-cakep dan cukup berwibawa. Dan perjuangan pun dimulai dari sini.

IMG_20151113_111140
Gambar 5. Foto Bersama Usai Serah Terima & Orientasi Pendidik Tahap 6 di Kota Kinabalu

Setiba di Kota Kinabalu, masih ada kegiatan yang mengiringi kami. Ya, kegiatan itu adalah Serah Terima dan Bimtek (Orientasi) Guru Pendidikan Dasar dan Menengah untuk Pendidikan Anak-anak di Sabah Malaysia Tahap 6 yang diselenggarakan pada tanggal 12-14 November 2015 di Sabah Oriental Hotel Kota Kinabalu, Sabah. Pada Gambar 5, kami dengan kompaknya menunjukkan angka 6 dengan enam jari tangan yang menunjukkan kami seluruhnya adalah Pendidik Sabah Tahap 6. Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Pejabat Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu, Pejabat Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau) turut hadir dalam kegiatan serah terima tersebut. Lalu 14 November 2015 aku dan teman-teman berpermit Humana serta CLC Distrik Lahad Datu bersiap menuju Lahad Datu.

IMG_20151115_131715.jpg
Gambar 6. Sawit di Sepanjang Jalan Menuju Tempat Tugas

Selanjutnya, 15 November 2015 adalah saatnya menuju tempat tugas yang sesungguhnya, yaitu CLC Genting Tanjung. Saat itu aku dan rekan seperjuangan satu tempat tugas, Riesty Amaylia Safitri, dijemput oleh kakak Tahap 2 dan 5, yaitu Mas Ikhsan dan Mbak Hazlia Muda. Perjalanan dari Bandar Lahad Datu menuju Genting Tanjung adalah sekitar dua jam dengan menggunakan bas. Selama perjalanan, hampir seluruhnya sawit yang ku lihat (Gambar 6). Kanan sawit, kiri pun sawit. Memang Sabah merupakan negeri di Malaysia yang kaya akan pohon sawit.

IMG_20151115_155842.jpg
Gambar 7. Depan Gedung Sekolah CLC Genting Tanjung

Dan akhirnya aku pun sampai di Ladang Genting Tanjung. Langsung ku menuju sekolah dan mendokumentasikan diri (macam hobi foto eh, hehehe). Di tempat inilah ku berkreasi dan berkarya bersama anak-anak Indonesia selama dua tahun penuh. Di tempat inilah suka duka ku alami selama menjadi perantau yang jauh dari keluarga di Indonesia. Meski belum menjadi pendidik yang terbaik bagi anak-anak, semoga anak-anak takkan melupakanku (ceileh… sendu eh).

Sampai di sini dulu ya Guys cerita Oktober & Horor kali in. Ada hal yang perlu dikerjakan abis nulis story ini. insya Allah masih akan bersambung di seri berikutnya. Jangan bosan untuk terus menikmati sajian bacaan sederhana ini ya, heheh…

Okay, See You…..

 

 

 

Advertisements
Oktober??? Hmhm…. Horor (Part 1)

Oktober??? Hmhm…. Horor (Part 1)

Tak terasa dua puluh empat bulan sudah ku berada di tanah rantau. Padahal baru kemarin menginjakkan kaki di sini. Hmhm, oke akan ku refresh kembali apa yang telah ku lewati sejak pertama datang ke Sabah hingga Oktober ini, bulan horor karena ku akan pulang, kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Untungnya aku sering mendokumentasikan setiap kegiatan di Sabah, jadi saat lagi butuh tidak perlu was-was tak ada gambar. Mungkin slogan “No Picture, Hoax” sedikit ada benarnya juga, hehehhe…

IMG_20151112_113902
 Gambar 1. Saat Pertama Datang di Kota Kinabalu, Sabah

Diawali dengan foto diriku berjas hitam dengan background Samsung Welcome to Kota Kinabalu. Hmhm, terlihat gagah juga eh (sekali-kali puji diri sendiri, hehhe). Dihiasi aksesoris pin bendera merah putih, membuktikan cintaku pada tanah air Indonesiaku tercinta. Lalu batik nuansa biru melekat pada tubuhku. Batik itu adalah kenang-kenangan dari salah satu siswaku di Bandung, yaitu Rizani Putra Nasution. Senang sekali kalau dapat kenang-kenangan dari siswa atau orang-orang tercinta dan terkasih dalam hidupku, eh cie…..

Selanjutnya, beralih ke hal seru lainnya. Check it out now…!!!

IMG_20151103_213839
Gambar 2. Pembekalan Pendidik Anak-anak Indonesia di Sabah Malaysia dan Mindanao Filipina

Oke, gambar 2 tersebut diambil ketika dilaksanakan Kegiatan Pembekalan Guru Pendidikan Dasar dan Menengah untuk Pendidikan Anak-anak Indonesia di Sabah Malaysia dan Mindanao Filipina (sebelum berkelana di Sabah). Pembekalan tersebut diselenggarakan di FaveHotel Bandung, Jawa Barat selama tiga hari yaitu pada tanggal 3 – 5 November 2015. Dengan berbalut kemeja polos putih, dasi merah, name tag, dan kopiah hitam, kami semua mengikuti serangkaian acara dengan suka cita.

IMG_20151104_152758
Gambar 3. Presentasi Rancangan Pembelaran di Kelompok Kecil

Berikutnya adalah saat mempresentasikan rancangan pembelajaran yang telah dibuat pada kelompok masing-masing (Gambar 3). Kawan-kawan ngeliatnya sampai segitunya eh, hehhe…. Ceritanya kami diminta dalam kelompok kecil membuat rancangan pembelajaran sesuai bidang studi masing-masing (Matematika kalau saya sih), lalu setiap anggota kelompok presentasi. Kostum yang ku kenakan saat itu adalah batik dominan biru. Batik tersebut punya kenangan tersendiri, yaitu saat PPL di SMPN 26 Bandung. Itu adalah batik seragam seluruh guru PPL di sekolah tersebut. Suka sekali diriku sama batik itu.

IMG_20151105_095841
Gambar 4. Berfoto sama Ibu Tina, Pejabat Kemdikbud Jakarta

Cerita selanjutnya adalah saat penutupan kegiatan pembekalan di Bandung. Gambar tersebut termasuk momen berharga. Betapa tidak, diriku berfoto sama salah satu Pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Yap, Bu Tina namanya. Beliau adalah salah satu yang mengurus segala hal berkaitan dengan pemberangkatan ke Sabah dan Mindanao. Senang rasanya bisa mengabadikan momen bersama wanita hebat tersebut. Oke, sampai di sini dulu tentang Oktober, yang horor (kataku, hehehe). Kenapa ku bilang horor, tidak lain dan tidak bukan yaitu karena diriku akan meninggalkan anak-anak dan orang-orang yang tecinta dan terkasih di sini (agak lebay ya), telah bersama selama dua tahun penuh. Bisa dikatakan juga lagi menghitung hari eh.

Karena saat ini listrik lagi mati, dan baterai laptop sudah mau low mode, okay bersambung saja ceritaku kali ini. Semoga tulisan ini bermanfaat buat pembaca semuanya. Sampai bertemu di cerita selanjutnya.

(bersambung….)

Pingpong, Let’s Go !

Pingpong, Let’s Go !

Yey, tulisan sederhana hadir lagi nih, kali ini tentang salah satu cabang olahraga yang cukup populer di sini (Sabah maksudnya) dan biasanya dilombakan di Kegiatan Apresiasi Kreasi Seni, Pengetahuan, Olahraga, dan Keterampilan (Apkres). Yes, olahraga itu adalah tenis meja atau dikenal juga dengan ‘pingpong’. Apkres merupakan salah satu ajang bergengsi tahunan bagi CLC-CLC se-Sabah Malaysia, di mana masing-masing CLC menunjukkan segala bakat dan potensi dari siswa-siswi terbaiknya. Pada Apkres 2016 lalu, siswa dari CLC Genting Tanjung yang bernama Akbar Bin Razak berada di tempat ke-4 setelah pertandingan mengharukan melawan siswa CLC Keningau dalam memperebutkan Juara 3. Meski belum masuk dalam jajaran juara Apkres, it’s okay. Posisi keempat pun sudah luar biasa dengan banyaknya peserta lomba tenis meja saat itu sekitar 40 siswa dari semua CLC di Sabah.

IMG_1794.jpg
Saat Memperebutkan Tempat ke-3 Pertandingan Tenis Meja pada Apkres Juli 2016

Well, itu pengalaman amazing dari siswa CLC Genting Tanjung tentang tenis meja yang lalu, untuk berikutnya semoga bisa lebih baik lagi. Sekarang kita menuju cerita tentang pingpong dalam seminggu terakhir ini di salah satu TKB dari CLC Genting Tanjung, yaitu TKB Genting Tenegang.
Selama ini siswa TKB Genting Tenegang jarang sekali latihan bola pingpong karena tidak adanya meja tenis di sekolah. Awalnya meja pingpong tersebut ada di TKB Genting Bahagia, lalu diangkut ke TKB Genting Tanjung, dan pada Jumat, 31 Maret 2017 meja berpindah ke TKB Genting Tenegang. Aku beserta dua anak calon Kelas VII, yaitu Mohammad Syafik dan Iqbal Daniel mengambil meja pingpong di TKB Genting Tanjung dengan menggunakan hilux office yang saat itu cuaca lagi mendung. Sempat was-was jika datang hujan syahdu.

P_20170331_153327.jpg
Dua Anak yang Menemani Ambil Meja Pingpong di Genting Tanjung Maret 2017

Selanjutnya anak-anak mulai berlatih pingpong hari Senin, 3 April 2017. Lalu ku berikan pengumuman pada siswa bahwa akan diadakan pertandingan tenis meja tingkat TKB Genting Tenegang pada Sabtu, 8 April 2017. Siswa pun antusias terhadap info tersebut dan mereka bersemangat dalam berlatih. Ada beberapa siswa yang datang ke sekolah pagi untuk latihan pingpong, padahal sekolah harusnya siang hari.

P_20170403_154449
Anak-anak Bersemangat Latihan Pingpong April 2017

Sabtu, 8 April 2017
Tiba saatnya anak-anak bertanding tenis meja. Sebelumnya saya katakan pada siswa bahwa hari Sabtu yang datang sekolah yang mau ikut tanding pingpong saja. Dan ternyata yang hadir 9 anak dan yang turut serta dalam pertandingan pingpong adalah sebanyak 8 anak. Sistem yang digunakan dalam pertandingan sederhana tersebut adalah sistem gugur dengan teknik undian. Setiap peserta akan mengambil kertas undian untuk ditentukan nomornya dari 1 sampai dengan 8.

IMG_6361.JPG
Penjelasan tentang Teknis Pertandingan Tenis Meja April 2017

Permainan sengit mewarnai pertandingan pingpong. Aku sangat senang dengan semangat mereka. Tidak banyak dokumentasi saat pertandingan pingpong tipis-tipis kemarin. Maklum, sibuk jadi wasit, hehe…

IMG_6381.JPG
Bersiap Jadi Wasit Pertandingan Tenis Meja April 2017

Dan hasil dari pertandingan tenis meja adalah sebagai berikut.

  1. Juara Pertama adalah Lasarus Ngari. Siswa Kelas VIII ini termasuk yang bersemangat latihan setiap pagi. Anak yang meraih Peringkat Pertama Kelas VIII pada semester ganjil 2016-2017 ini memang bermain dengan sangat bagus. Congratulation ya atas kemenangan di pertandingan tenis meja ini.

    IMG_2366
    Lasarus Ngari
  2. Juara Kedua adalah Iqbal Daniel. Calon siswa kelas VII ini juga sangat bersemangat dalam latihan. Anak ini bermain menggunakan tangan kiri dengan lincahnya. Dia termasuk salah satu anak yang paling rajin datang ke sekolah, apalagi Maret 2017 kemarin dia jadi Calon Siswa Kelas VII ter-Hitz di TKB Genting Tenegang.

    IMG_3700.jpg
    Iqbal Daniel
  3. Juara Ketiga adalah Faustina Karlina Wula. Satu-satunya peserta perempuan ini memang suka sekali berolahraga, apapun itu jenis olahraga. Siswa yang jadi Peringkat 2 Kelas VIII pada semester ganjil di TKB Genting Tenegang tahun 2016-2017 ini telah menunjukkan kemampuan tenis mejanya dengan menduduki tempat ke-3. Selamat ya.

    DSC_3289.jpg
    Faustina Karlina Wula
  4. Juara Harapan adalah Marsel. Siswa yang meraih Peringkat 1 semester ganjil 2016-2017 ini memang cukup gesit. Terus semangat berlatih agar ke depannya jadi lebih baik lagi, okay…

    IMG_3892.jpg
    Marsel

Oke, itulah profil singkat Sang Juara Pertandingan Pingpong tingkat TKB Genting Tenegang. Untuk hadiah bagi mereka belum dibagikan, insya Allah akan diberikan saat sekolah nanti siang. Semoga anak-anak terus semangat belajar dan berlatih dalam berolahraga.

Berikut bagan pertandingan tenis meja Sabtu, 8 April 2017.

bagan pingpong
Bagan dan Hasil Pertandingan Tenis Meja di TKB Genting Tenegang April 2017

Untuk cabang olahraga pingpong sendiri, semoga terus berkembang di CLC Genting Tanjung. Semoga di Apkres 2017 (kalau masih ada pertandingan tenis meja, hehe…) anak-anak bisa tampil lebih baik lagi dari Apkres sebelumnya (Apkres 2016).

IMG_1774 (2).JPG
Kontingen Apkres 2016 CLC Genting Tanjung

Salam semangat selalu untuk pendidikan anak-anak Indonesia. Jayalah Indonesia-ku.
Semoga bermanfaat, terima kasih.

 

 

 

All about “Bubur AlaMe”

All about “Bubur AlaMe”

Pasti teman-teman sudah gemes & geli ya dengan judul yang ku buat. Kenapa tidak bubur alami, atau kenapa harus AlaMe? Hehehe…

DSC_4356
Bubur AlaMe Kacang Hijau

Bubur AlaMe. Meski semua orang sudah tahu apa itu bubur, akan ku ulas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bubur adalah makanan lembek dan berair yang dibuat dari bahan beras, kacang-kacangan, dan sebagainya yang direbus (KBBI). Ala, menurut KBBI adalah secara. Lalu Me itu dari Bahasa Inggris yang artinya saya atau aku. Jadi dapat ku katakan kalau Bubur AlaMe itu bubur yang memang dibuat dengan bahan dan cara pembuatan menurut caraku sendiri, heheh…

Awalnya aku suka iseng-iseng bikin bubur di rumah. Dulu biasanya bikin bubur dengan bahan kacang hijau. Ketika kali pertama buat bubur di sini (Sabah maksudnya) dan saat itu aku tinggal di Genting Tanjung Estate, hasilnya masih keras kacang hijaunya. Hehe, maklum baru awal-awal percobaan ke’iseng’anku. Hal itu terjadi karena merebus kacang hijaunya kurang lama. Seperti kita tahu, kacang hijau itu termasuk bahan makanan yang agak lama proses jadi lunaknya.

Berikutnya, aku pun mencoba buat bubur kacang hijau lagi. Dan alhamdulillah sudah lunak hasilnya, dan bisa dikatakan telah layak makan. Saat itu cuma orang di rumah dan kawan yang main ke rumah saja yang makan. Kebetulan saat itu aku tinggal bersama Roslani (dokter di Klinik Genting Tanjung) dan Taufik (Praktikal Office Genting Tanjung saat itu).

Selanjutnya saat aku tinggal di Genting Tenegang Estate, aku malah sering sekali membuat bubur. Entah mengapa kok aku suka banget bikin makanan lunak itu. Terkadang aku seharian makan bubur saja, sesekali saja seh, hehe…

Bubur AlaMe awalnya jadi konsumsi di rumah saja, lalu pernah ku bawa ke sekolah. Ceritanya sekali-sekali makan bubur AlaMe bersama anak-anak di sekolah. Dan alhamdulillah anak-anak pun suka. Saat itu cuma bikin bubur sedikit, sehingga ya dibagi seadanya saja, yang penting semua merasakan.

IMG_3853.JPG
Bubur AlaMe Ubi Ungu di TKB Genting Tenegang Februari 2017

Lalu aku pun berpikir bagaimana kalau bersama anak-anak ikut meramaikan pasar gaji yang hadir setiap sebulan sekali. Jadi yang menikmati bubur AlaMe bukan hanya aku atau tetangga dekat atau anak-anak saja, melainkan masyarakat ladang juga merasakan bubur kacang hijau dan bubur ubi. Dalam hal ini, belum ada warga yang berjualan bubur di pasar gaji. Jadi dapat ku katakan kalau pasar gaji menjadi momen yang tepat untuk berkreasi dengan Bubur AlaMe, hehee…

Pasar Gaji Maret 2017
Tanggal 7 Maret 2017 adalah hari yang dinanti-nanti warga Genting Tenegang Estate. Bagaimana tidak, saat itu adalah hari di mana mereka memperoleh gaji setelah satu bulan bekerja keras di ladang. Tak mau ketinggalan, kami (anak-anak CLC Genting Tanjung TKB Genting Tenegang beserta aku pastinya, hehe) berjualan Bubur AlaMe di pasar gaji yang hanya ada sebulan sekali (yaitu setiap tanggal 7). Kami membuat bubur di rumah sebanyak dua periuk nasi, lalu diangkut ke pasar gaji untuk didistribusikan ke konsumen.

IMG_4772
Penampilan Perdana Bubur AlaMe di Pasar Gaji Genting Tenegang Estate Maret 2017

Saat akan berjualan bubur di pasar gaji Maret 2017, aku bingung akan buat stand di mana. Soalnya ada yang bilang jika akan berjualan, harus minta izin dulu ke ketua kampung biar nyaman gitu. Oke, aku dengan ditemani siswa menuju rumah ketua kampung untuk meminta izin berjualan kecil-kecilan. Ketua kampung pun mengizinkan. Lalu kami pun memakai meja di rumah siswa (yang dekat dengan pasar gaji). Dengan meja dilapisi kain putih, beraksi-lah kami.

IMG_20170308_192132_044.jpg

Semangat Beraksi bersama Bubur AlaMe Maret 2017

Sebagai tanda kalau kami anak-anak CLC Genting Tanjung, anak-anak memakai jaket CLC dengan nuansa merah meriah. Jaket CLC dipakai jika ada momen tampil di luar sekolah, yang dalam hal itu di pasar gaji agar masyarakat semakin kenal dengan CLC. Tak lupa kami sertakan pamflet sederhana bertuliskan bubur AlaMe dan keterangannya. Pamflet itu dibuat dengan terburu-buru karena lagi mengejar waktu saat itu. Maklum, baru pertama akan ‘aksi’, sehingga belum terlalu maksimal tampilan pamfletnya.

IMG_4769.jpg
Siswa bersama Pamflet Sederhana Maret 2017

Suasana pasar gaji di ladang akan sangat ramai setelah masyarakat ambil gaji di office Genting Tenegang Estate. Biasanya setelah dari office, mereka langsung bergegas menuju pasar untuk berbelanja. Pasar di sini tidak sebesar di Genting Tanjung Estate yang banyak sekali orang berjualan dan banyak juga pengunjung. Tetapi di Genting Tenegang pun oke kok. Pasar gaji menjadi momen setiap bulan untuk menikmati keramaian dan keceriaan di ladang.

DSC_4776.jpg
Situasi Pasar Gaji Maret 2017

Sambil beraksi bersama Bubur AlaMe, kami pun bersama-sama menikmati pisang goreng spesial. Spesial karena dimakan bersama anak-anak yang spesial, hehe. Ada sambalnya juga lho, jadi makin mantap makanan itu.

IMG_20170308_080401_850.jpg
Menikmati Pisang Goreng Bersama Anak-anak Maret 2017

Itulah cerita pengalaman seru kami saat momen pasar gaji Maret 2017. Sebelum lanjut ke momen pasar gaji April 2017, kita bahas dulu yuk, apa saja alat dan bahan yang dibutuhkan dan serangkaian proses untuk membuat bubur ubi. Meskipun teman-teman sudah tahu dan bisa, tapi tidak ada salahnya kok. Okay, check it out !

Alat :
Kompor
Periuk
Sendok besar
Bahan :
Ubi
Sagu
Garam (sedikit saja)
Gula (sesuai selera)
Santan
Daun pandan
Air
Proses pembuatan Bubur AlaMe (bubur ubi) :

  1. Siapkan terlebih dahulu alat dan bahan yang dibutuhkan.
  2. Kupas ubi menggunakan pisau. Kulit ubi dihilangkan dengan bersih lho ya, hehe..

    P_20170407_080106.jpg
    Ubi Dikupas Kulitnya
  3. Kemudian, ubi yang telah dikupas tadi dicuci dengan menggunakan air bersih.

    P_20170407_080636.jpg
    Ubi Dicuci dengan Air Bersih
  4. Setelah itu, ubi dipotong dengan bentuk kecil-kecil. Bentuknya boleh bentuk apa saja, yang penting kecil ya….

    IMG_5978.jpg
    Ubi Dipotong Kecil-kecil
  5. Selanjutnya, potongan ubi kecil-kecil tadi dicuci lagi bah.

    P_20170407_082303.jpg
    Potongan Ubi Dicuci
  6. Lalu masukkan potongan ubi tersebut ke dalam periuk, kemudian tambahkan air ke dalamnya.

    IMG_20170407_143937.jpg
    Potongan Ubi DImasukkan dalam Periuk dan Ditambahkan Air
  7. Letakkan periuk berisi potongan-potongan ubi dan air di atas kompor gas dan tutuplah periuk. Lalu nyalakan kompor gas.

    IMG_20170407_144058.jpg
    Ubi Direbus
  8. Tunggu beberapa saat hingga ubi yang direbus menjadi lunak. Sambil menunggu ubi lunak, cucilah sagu dan kemudian tiriskan.

    IMG_6074.jpg
    Sagu Dicuci dan Ditiriskan
  9. Setelah ubi yang direbus telah lunak, masukkan sagu ke dalam periuk. Kemudian aduk secara perlahan.

    IMG_6080.jpg
    Sagu Dimasukkan dan Diaduk Perlahan
  10. Kemudian masukkan garam sedikit saja, aduk perlahan lagi. Berikutnya, masukkan gula sesuai selera ke dalam periuk dan aduk lagi.
  11. Masukkan santan ke dalam bubur, dan seperti biasa aduk-aduk lagi.

    IMG_6125.JPG
    Santan Dimasukkan. Bukan lagi promosi produk lho ya, hehe..
  12. Kemudian masukkan daun pandan yang telah dipotong dan dicuci bersih. Lalu bubur diaduk-aduk perlahan

    IMG_6134.jpg
    Daun Pandan Dimasukkan dan Diaduk
  13. Oke, bubur AlaMe siap dihidangkan. Selamat menikmati, hehee…

    IMG_6139.JPG
    Tester Bubur AlaMe Ubi

Demikian tadi tentang proses pembuatan bubur AlaMe sederhana dengan bahan utama ubi. Jika ingin membuat dengan bahan utama kacang hijau, hampir sama langkah-langkahnya kok. Hehe…

Next, kita lanjut pada suasana pasar gaji 7 April 2017.
Pasar gaji Maret 2017 menjadi aksi kedua kami dalam berkreasi dengan bubur AlaMe. Hujan syahdu mewarnai pasar gaji di ladang. Tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat kami untuk meramaikan pasar yang hanya ada setiap sebulan sekali ini. Awalnya kita bingung akan membuka lapak di mana. Kalau yang bulan lalu, stand kami berada di pinggir jalan dengan tidak memakai tenda penutup karena cuaca sangat bagus (cerah sekali). Namun pasar gaji kali ini ditemani dengan tetes-tetes air yang turun dari awan-awan gelap. Sehingga kami membuka stand di depan rumah warga yang ada atapnya agar aman dari hujan.

IMG_20170407_182435_632.jpg
Stand Bubur AlaMe Dapan Rumah Warga Saat Pasar Gaji April 2017

Awalnya di depan rumah warga ini sunyi karena lokasi kurang strategis, sehingga kami pun berpindah tempat berjualan ke ujung rumah warga yang berdekatan langsung dengan pasar gaji dengan beratapkan tenda biru. Bukan judul lagu lho ya, hehe…

IMG_6308.JPG
Pindah Posisi ke Ujung Rumah Warga dangan Tenda Biru April 2017

Berjualan bubur AlaMe kali ini dengan kuantitas yang lebih besar dari bulan sebelumnya. Betapa tidak, periuk yang kami gunakan ukurannya benar-benar jumbo. Coba bandingkan dengan yang lalu, hanya dengan periuk nasi kecil. Untuk varian rasa, kali ini sedikit berbeda. Sebelumnya bubur ubi ungu, sekarang bubur ubi kuning. Untuk bubur kacang hijau masih tetap ada kok.

IMG_6281.JPG
Anak-anak Beraksi bersama Bubur AlaMe April 2017

Untuk pamflet kali ini sedikit lebih baik dari sebelumnya. Sekarang disertakan pula gambar siswa saat pasar gaji bulan lalu serta juga gambar bubur ubi dan bubur kacang hijau. Cuma masih di kertas biasa saja seh, tapi it’s okay.

bub (2).png
Pamflet Bubur AlaMe

Alhamdulillah, untuk berjualan bubur AlaMe bulan ini laris manis. Kali ini sudah dicoba membuat bubur dengan kuantitas sekitar dua kali lebih banyak dari yang sebelumnya. Dan habis tak bersisa buburnya. Untuk selanjutnya, ingin sekali mencoba dengan varian rasa berbeda, dengan mengganti bahan utama bubur tersebut seperti kacang merah atau yang lainnya.

IMG_6299.JPG
Suasana Pasar Gaji Genting Tenegang Estate April 2017

Oke, semoga bermanfaat buat kita semua. Penulis hanya ingin menyimpan memori dalam tulisan saja. Kalau disimpan dalam pikiran biasanya mudah lupa, kan sayang sekali bah.

Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Merantau, “Yes or No?”

Merantau, “Yes or No?”

Bismillahirrahamanirrahim

Menjadi perantau memang bukanlah hal yang terpikirkan olehku pada waktu dulu. Ketika masih belajar dari SD hingga perguruan tinggi aku belum pernah merasakan yang namanya jadi anak kost, jadi anak pondok, atau jadi anak kontrakan. Setiap hari pulang-pergi (PP) dari sekolah/kampus ke rumah, dan selalu bertemu dengan emak, bapak, saudara, dan tetangga.

PhotoGrid_1444669458480.jpg
Bersama keluarga tercinta di Gresik, Jawa Timur

Budi Santoso, begitulah nama lengkapku. Anak ke-7 dari 9 bersaudara ini adalah putra dari Bapak Markunsen (75) dan Ibu Saropah (62). Aku dan saudara-saudaraku pun memanggil orang tuaku dengan sebutan bapak dan emak. Selanjutnya akan ku tuliskan nama-nama saudaraku (termasuk aku) sesuai dengan urutannya.

  1. Suliswanik (45)
  2. Sulianah (43)
  3. Sutoko
  4. Suyanti (38)
  5. Setiawati (35)
  6. Suhartono (30)
  7. Budi Santoso (27)
  8. Edi Lukito (22)
  9. Naning Erlina (20)

Saat hari raya atau lebaran tiba, maka rumahku akan ramai dengan hadirnya semua anggota keluarga di rumah. Memang benar kalau momen lebaran menjadi salah satu momen terindah dalam hidup.

IMG_20140728_081557
Budi beserta kedua adiknya Juli 2014

Kembali lagi ke topik yang sedang ku bahas, yaitu masih dengan kata ‘rantau’.

Sebelum ku putuskan untuk merantau, aku pernah mengajar di lembaga pendidikan yang berbasis yayasan yaitu LPI Al-Azhar Manganti Gresik. Mulai Januari sampai Juni 2012 aku mengajar di SMP dan SMK Al-Azhar. Kemudian saat tahun ajaran baru, aku mengajar di SMP dan SMA Al-Azhar. Tidak lama aku mengajar di LPI Al-Azhar, hanya sekitar 9 bulan saja (kayak ibu mengandung saja, hehe… peace).

DSCN0320.JPG
Bersama Siswa SMP Al-Azhar Menganti Gresik Mei 2012

Tidak mudah untuk membuat keputusan besar saat itu, antara merantau ke Sumba ikut Program SM-3T atau tidak. SM-3T adalah kependekan dari Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Oktober 2012 pun aku dan kawan-kawan dari Unesa lainnya berangkat ke Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Saat itu aku naik pesawat terbang untuk kali pertama. Dulu senang sekali akhirnya bisa naik kendaraan yang bisa terbang itu. Dan yang paling teringat di Sumba Timur adalah kendaraan yang super wow. Namanya oto, semacam truk kayu dengan penumpang yang sangat padat dengan barang-barang dan binatang yang beraneka ragam.

78328_4040715783135_1506909596_o.jpg
Perjalanan dari Tempat Tugas ke Kota Waingapu menggunakan oto Oktober 2012

Kala SM-3T aku ditugaskan di SMP Negeri Satap Langira, Desa Katikuwai, Kecamatan Matawai La Pawu, Kabupaten Sumba Timur. SMP N Satap Langira satu lokasi dengan SD Inpres Langira. Di tempat tugas itu aku bersama partner terbaik dari Jurusan Geografi yaitu Dhita Khodarianti. Tinggal di daerah perbukitan dengan tanpa sinyal dan listrik, telah kami lalui. Bertemu dengan masyarakat dengan adat dan budaya yang berbeda, menyaksikan kuda dan sapi yang banyak berkeliran di pinggir jalan, menikmati suguhan sirih pinang saat bertamu ke rumah warga, dan banyak cerita lainnya yang membuatku sangat rindu dengan Sumba.

2012-12-18 08.09.26
Bersama Siswa SMP Negeri Satap Langira, Matawai La Pawu, Sumba Timur Desember 2012
2013-09-03 11.50.18.jpg
Bersama anak-anak SD Inpres Langira, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur

Aku beserta rekan-rekan seperjuangan SM-3T lainnya bertugas selama setahun penuh untuk mendidik anak-anak Indonesia di daerah pelosok. Saat ada momen liburan, kami biasanya stay di Kota Waingapu (ibukota Sumba Timur). Kami ada dua kontrakan di Waingapu, yaitu Kontrakan Kamalaputih dan Kontrakan Palapa. Di kota kami berbagi suka dan duka sesama perantau dan menikmati kebersamaan yang jarang ditemui saat di tempat tugas masing-masing. Kegiatan kami yang cukup besar di Sumba Timur adalah Seminar Pendidikan dengan tema “Mendidik dengan Karakter untuk Meningkatkan Potensi Peserta Didik”.

IMG_8004.JPG
Bersama Rekan-rekan Seperjuangan SM-3T Kabupaten Sumba Timur Juni 2013

Selain mengajar di tempat tugas masing-masing, kami memanfaatkan momen libur sekolah untuk berkunjung ke tempat-tempat yang bagus. Salah satunya adalah Pulau Salura yang terletak di ujung selatan Sumba Timur. Pulau yang benar-benar istimewa dengan pantai, bukit, dan masyarakat yang amazing.

DSCN3464.JPG
Di Atas Bukit Pulau Salura Juni 2013

Lalu pada September 2013 aku dan Guru-guru SM-3T lainnya kembali ke Jawa karena sudah setahun berada di tempat tugas. Kami pun menunggu dimulainya Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) selama setahun sebagai kelanjutan dari Program SM-3T. Dahulu aku berharap agar PPG di Unesa karena rumah saya dekat sekali dengan kampus Unesa Lidah Wetan. Tetapi ternyata aku ditempatkan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Hmhm, lumayan jauh dari Gresik. Meskipun demikian, aku sangat bersyukur bisa kenal sama saudara-saudara sesama PPG UPI. Program PPG dimulai akhir Februari 2014 hingga akhir Februari 2015.

IMG_7135.JPG
Bersama Rekan-rekan PPG UPI Juli 2014

Selama menjalani masa PPG, kami harus tinggal di rusunawa (asrama) selama setahun penuh. Banyak agenda yang harus dilaksanakan sebagai penghuni asrama, di antaranya makan bersama, Shalat Shubuh berjamaan di Masjid Al-Furqon, Shalat Maghrib berjamaah & Pengajian Rutin Usai Maghrib setiap Senin dan Kamis, senam bersama setiap hari Minggu, kegiatan outbond, dan sebagainya. Alhamdulillah semua kegiatan dapat dilalui dengan baik.

IMG_2486.JPG
Saat Kegiatan Outbond PPG UPI November 2014

Untuk kegiatan akademik saat PPG, aku dan kawan-kawan satu jurusan belajar di Gedung JICA FPMIPA UPI. Kami belajar bersama dosen-dosen Matematika UPI yang hebat. Kami dibimbing untuk membuat perencanaan pembelajaran yang baik beserta pelaksanaannya. Setiap minggu kami mengerjakan tugas membuat Siklus Workshop yang meliputi silabus, RPP, bahan ajar, LKS, media, dan alat evaluasi. Jadi di rusunawa selain sibuk dengan kegiatan asrama, kami juga harus bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugas akademik dari kampus.

12313577_1700680550164254_7500611418986294433_n
Kami Ber-19 PPG Matematika UPI dan Ibu Asrama

Selama satu semester di UPI kami ada kelas akademik di kampus, kemudian untuk satu semester berikutnya kami juga ada Program Pengalaman Lapangan (PPL). Aku beserta kedua rekan, Erina Widiani dan Diyan Permatasari ditugaskan di SMP Negeri 26 Bandung. Di sekolah tersebut kami mengaplikasikan apa yang kami peroleh selama workshop di kampus. Aku saat itu bertugas mengajar di kelas wajib VIIA dan VIIB. Selain itu, terkadang kami juga menggantikan jam mengajar guru-guru lain yang berhalangan hadir. Dengan demikian, kami merasakan juga mengajar di semua tingkatan kelas, yaitu kelas VII, VIII, dan IX.

DSC_2445
Kegiatan Pembelajaran di Kelas VIIA SMP Negeri 26 Bandung November 2014

Program PPG pun diakhiri dengan yudisium yang menandakan kami semua (peserta PPG UPI 2014) telah lulus dalam program tersebut dan berhak mendapatkan sertifikat pendidik. Akhirnya suka duka selama setahun penuh di UPI berakhir juga. Kami pun akan kembali ke tempat masing-masing dan melanjutkan kehidupan lebih baik lagi.

IMG_20150227_092142
Usai Yudisium PPG UPI Februari 2015

Sebenarnya sebelum Program PPG UPI berakhir, aku sudah mengajar di salah satu sekolah di Bandung, yaitu di SMA Istiqamah Bandung. Aku masuk ke sekolah itu atas rekomendasi dari guru pamong PPL di SMP Negeri 26 Bandung, yaitu Bapak Ishak. Aku mulai mengajar di SMA tersebut dari Januari 2015 hingga Juni 2015. Awalnya aku bolak-balik UPI ke SMA Istiqamah (karena masih PPG), lalu aku tinggal di mess sekolah selama dua bulan, kemudian pindah stay di kost yang ada di Cijawura Girang yang cukup dekat dengan sekolah.

20150505_093600 ok.jpg
Bersama Siswa Kelas X IPA SMA Istiqamah Bandung Mei 2015

Dan hingga akhirnya November 2015 aku dan kawan-kawan calon Pendidik Sabah Malaysia dan Mindanao Filipina mengikuti kegiatan pembekalan di FaveHotel Bandung selama beberapa hari. Kami diberikan pengarahan tentang bagaimana kondisi di lapangan nanti, mengenai kesiapan mental dan fisik kami, cinta tanah air Indonesia, tentang perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran juga. Kami saat itu bertemu dengan teman-teman hebat dari segala penjuru Indonesia. Kami punya satu misi yaitu akan memberikan pelayanan terbaik untuk anak-anak Indonesia si Sabah Malaysia atau Mindanao Filipina.

IMG-20151105-WA005
Saat Pembekalan Pendidik Anak-anak Indonesa di Malaysia dan Filipina November 2015

Berikutnya keberangkatan kami ke Malaysia dilaksanakan di Jakarta bersama para pejabat penting di lingkungan Kemdikbud Jakarta. Kami, guru-guru Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), memakai stelan jas beserta sabuk berlogo garuda dan merah putih. Saat itu aku benar-benar tidak percaya kalau akan berangkat ke luar negeri (dekat seh, Malaysia. hehe…). Aku ingin mendapatkan pengalaman dari negeri seberang. Pengalaman yang tak akan terlupakan dalam sejarah hidupku.

IMG_20151111_202201.jpg
Keberangkatan Calon Pendidik Malaysia dan Filipina di Jakarta November 2015

Selanjutnya, 12 November 2015 menjadi momen bersejarah bagi kami. Aku menginjakkan kaki di luar negeri untuk kali pertama. Awalnya kami terbang dari Jakarta transit di Kualalumpur, kemudian lanjut ke Kota Kinabalu. Alhamdulillah kami bisa sampai di Malaysia dengan selamat. Kami bertugas mendidik anak-anak Indonesia di Sabah selama dua tahun sesuai dengan kontrak pertama kami dengan Direktorat Dikdas Kemdikbud. Selama dua tahun kami merantau di negeri seberang, di Sabah Malaysia. Dan cerita/pengalaman seru di luar negeri dimulai dari sini. Perantauan terjauh yang pernah ku lakukan di sini, di Negara Malaysia.

IMG_20151112_113902.jpg
Tiba di Kota Kinabalu International Airport November 2015
IMG_20151113_111140
Pendidik SILN beserta Pejabat Kemdikbud Saat Orientasi di Kota Kinabalu November 2015

Oke, demikian cerita saya dari awal merantau di Sumba Timur hingga merantau ke luar negeri (Malaysia). Merantau adalah sebuah pilihan setiap orang. Ada plus minusnya dari yang namanya ‘rantau’. Pasti ada suka duka di balik kisah hidup perantau itu. Yang terpenting adalah selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah SWT., menjalin hubungan yang baik dengan rekan-rekan pendidik Indonesia, beradaptasi yang baik dengan masyarakat sekitar, dan memberikan yang terbaik pada anak-anak Indonesia di Sabah Malaysia.

IMG_1774 (2)
Bersama Siswa CLC Genting Tanjung Juli 2016

The last but not the least, tetap rendah hati kapanpun dan di manapun kita berada.

DSC_0242
Keceriaan anak-anak Indonesia Maret 2016

Sekian, terima kasih. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Aamiin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.