Merantau, “Yes or No?”

Merantau, “Yes or No?”

Bismillahirrahamanirrahim

Menjadi perantau memang bukanlah hal yang terpikirkan olehku pada waktu dulu. Ketika masih belajar dari SD hingga perguruan tinggi aku belum pernah merasakan yang namanya jadi anak kost, jadi anak pondok, atau jadi anak kontrakan. Setiap hari pulang-pergi (PP) dari sekolah/kampus ke rumah, dan selalu bertemu dengan emak, bapak, saudara, dan tetangga.

PhotoGrid_1444669458480.jpg
Bersama keluarga tercinta di Gresik, Jawa Timur

Budi Santoso, begitulah nama lengkapku. Anak ke-7 dari 9 bersaudara ini adalah putra dari Bapak Markunsen (75) dan Ibu Saropah (62). Aku dan saudara-saudaraku pun memanggil orang tuaku dengan sebutan bapak dan emak. Selanjutnya akan ku tuliskan nama-nama saudaraku (termasuk aku) sesuai dengan urutannya.

  1. Suliswanik (45)
  2. Sulianah (43)
  3. Sutoko
  4. Suyanti (38)
  5. Setiawati (35)
  6. Suhartono (30)
  7. Budi Santoso (27)
  8. Edi Lukito (22)
  9. Naning Erlina (20)

Saat hari raya atau lebaran tiba, maka rumahku akan ramai dengan hadirnya semua anggota keluarga di rumah. Memang benar kalau momen lebaran menjadi salah satu momen terindah dalam hidup.

IMG_20140728_081557
Budi beserta kedua adiknya Juli 2014

Kembali lagi ke topik yang sedang ku bahas, yaitu masih dengan kata ‘rantau’.

Sebelum ku putuskan untuk merantau, aku pernah mengajar di lembaga pendidikan yang berbasis yayasan yaitu LPI Al-Azhar Manganti Gresik. Mulai Januari sampai Juni 2012 aku mengajar di SMP dan SMK Al-Azhar. Kemudian saat tahun ajaran baru, aku mengajar di SMP dan SMA Al-Azhar. Tidak lama aku mengajar di LPI Al-Azhar, hanya sekitar 9 bulan saja (kayak ibu mengandung saja, hehe… peace).

DSCN0320.JPG
Bersama Siswa SMP Al-Azhar Menganti Gresik Mei 2012

Tidak mudah untuk membuat keputusan besar saat itu, antara merantau ke Sumba ikut Program SM-3T atau tidak. SM-3T adalah kependekan dari Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Oktober 2012 pun aku dan kawan-kawan dari Unesa lainnya berangkat ke Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Saat itu aku naik pesawat terbang untuk kali pertama. Dulu senang sekali akhirnya bisa naik kendaraan yang bisa terbang itu. Dan yang paling teringat di Sumba Timur adalah kendaraan yang super wow. Namanya oto, semacam truk kayu dengan penumpang yang sangat padat dengan barang-barang dan binatang yang beraneka ragam.

78328_4040715783135_1506909596_o.jpg
Perjalanan dari Tempat Tugas ke Kota Waingapu menggunakan oto Oktober 2012

Kala SM-3T aku ditugaskan di SMP Negeri Satap Langira, Desa Katikuwai, Kecamatan Matawai La Pawu, Kabupaten Sumba Timur. SMP N Satap Langira satu lokasi dengan SD Inpres Langira. Di tempat tugas itu aku bersama partner terbaik dari Jurusan Geografi yaitu Dhita Khodarianti. Tinggal di daerah perbukitan dengan tanpa sinyal dan listrik, telah kami lalui. Bertemu dengan masyarakat dengan adat dan budaya yang berbeda, menyaksikan kuda dan sapi yang banyak berkeliran di pinggir jalan, menikmati suguhan sirih pinang saat bertamu ke rumah warga, dan banyak cerita lainnya yang membuatku sangat rindu dengan Sumba.

2012-12-18 08.09.26
Bersama Siswa SMP Negeri Satap Langira, Matawai La Pawu, Sumba Timur Desember 2012
2013-09-03 11.50.18.jpg
Bersama anak-anak SD Inpres Langira, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur

Aku beserta rekan-rekan seperjuangan SM-3T lainnya bertugas selama setahun penuh untuk mendidik anak-anak Indonesia di daerah pelosok. Saat ada momen liburan, kami biasanya stay di Kota Waingapu (ibukota Sumba Timur). Kami ada dua kontrakan di Waingapu, yaitu Kontrakan Kamalaputih dan Kontrakan Palapa. Di kota kami berbagi suka dan duka sesama perantau dan menikmati kebersamaan yang jarang ditemui saat di tempat tugas masing-masing. Kegiatan kami yang cukup besar di Sumba Timur adalah Seminar Pendidikan dengan tema “Mendidik dengan Karakter untuk Meningkatkan Potensi Peserta Didik”.

IMG_8004.JPG
Bersama Rekan-rekan Seperjuangan SM-3T Kabupaten Sumba Timur Juni 2013

Selain mengajar di tempat tugas masing-masing, kami memanfaatkan momen libur sekolah untuk berkunjung ke tempat-tempat yang bagus. Salah satunya adalah Pulau Salura yang terletak di ujung selatan Sumba Timur. Pulau yang benar-benar istimewa dengan pantai, bukit, dan masyarakat yang amazing.

DSCN3464.JPG
Di Atas Bukit Pulau Salura Juni 2013

Lalu pada September 2013 aku dan Guru-guru SM-3T lainnya kembali ke Jawa karena sudah setahun berada di tempat tugas. Kami pun menunggu dimulainya Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) selama setahun sebagai kelanjutan dari Program SM-3T. Dahulu aku berharap agar PPG di Unesa karena rumah saya dekat sekali dengan kampus Unesa Lidah Wetan. Tetapi ternyata aku ditempatkan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Hmhm, lumayan jauh dari Gresik. Meskipun demikian, aku sangat bersyukur bisa kenal sama saudara-saudara sesama PPG UPI. Program PPG dimulai akhir Februari 2014 hingga akhir Februari 2015.

IMG_7135.JPG
Bersama Rekan-rekan PPG UPI Juli 2014

Selama menjalani masa PPG, kami harus tinggal di rusunawa (asrama) selama setahun penuh. Banyak agenda yang harus dilaksanakan sebagai penghuni asrama, di antaranya makan bersama, Shalat Shubuh berjamaan di Masjid Al-Furqon, Shalat Maghrib berjamaah & Pengajian Rutin Usai Maghrib setiap Senin dan Kamis, senam bersama setiap hari Minggu, kegiatan outbond, dan sebagainya. Alhamdulillah semua kegiatan dapat dilalui dengan baik.

IMG_2486.JPG
Saat Kegiatan Outbond PPG UPI November 2014

Untuk kegiatan akademik saat PPG, aku dan kawan-kawan satu jurusan belajar di Gedung JICA FPMIPA UPI. Kami belajar bersama dosen-dosen Matematika UPI yang hebat. Kami dibimbing untuk membuat perencanaan pembelajaran yang baik beserta pelaksanaannya. Setiap minggu kami mengerjakan tugas membuat Siklus Workshop yang meliputi silabus, RPP, bahan ajar, LKS, media, dan alat evaluasi. Jadi di rusunawa selain sibuk dengan kegiatan asrama, kami juga harus bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugas akademik dari kampus.

12313577_1700680550164254_7500611418986294433_n
Kami Ber-19 PPG Matematika UPI dan Ibu Asrama

Selama satu semester di UPI kami ada kelas akademik di kampus, kemudian untuk satu semester berikutnya kami juga ada Program Pengalaman Lapangan (PPL). Aku beserta kedua rekan, Erina Widiani dan Diyan Permatasari ditugaskan di SMP Negeri 26 Bandung. Di sekolah tersebut kami mengaplikasikan apa yang kami peroleh selama workshop di kampus. Aku saat itu bertugas mengajar di kelas wajib VIIA dan VIIB. Selain itu, terkadang kami juga menggantikan jam mengajar guru-guru lain yang berhalangan hadir. Dengan demikian, kami merasakan juga mengajar di semua tingkatan kelas, yaitu kelas VII, VIII, dan IX.

DSC_2445
Kegiatan Pembelajaran di Kelas VIIA SMP Negeri 26 Bandung November 2014

Program PPG pun diakhiri dengan yudisium yang menandakan kami semua (peserta PPG UPI 2014) telah lulus dalam program tersebut dan berhak mendapatkan sertifikat pendidik. Akhirnya suka duka selama setahun penuh di UPI berakhir juga. Kami pun akan kembali ke tempat masing-masing dan melanjutkan kehidupan lebih baik lagi.

IMG_20150227_092142
Usai Yudisium PPG UPI Februari 2015

Sebenarnya sebelum Program PPG UPI berakhir, aku sudah mengajar di salah satu sekolah di Bandung, yaitu di SMA Istiqamah Bandung. Aku masuk ke sekolah itu atas rekomendasi dari guru pamong PPL di SMP Negeri 26 Bandung, yaitu Bapak Ishak. Aku mulai mengajar di SMA tersebut dari Januari 2015 hingga Juni 2015. Awalnya aku bolak-balik UPI ke SMA Istiqamah (karena masih PPG), lalu aku tinggal di mess sekolah selama dua bulan, kemudian pindah stay di kost yang ada di Cijawura Girang yang cukup dekat dengan sekolah.

20150505_093600 ok.jpg
Bersama Siswa Kelas X IPA SMA Istiqamah Bandung Mei 2015

Dan hingga akhirnya November 2015 aku dan kawan-kawan calon Pendidik Sabah Malaysia dan Mindanao Filipina mengikuti kegiatan pembekalan di FaveHotel Bandung selama beberapa hari. Kami diberikan pengarahan tentang bagaimana kondisi di lapangan nanti, mengenai kesiapan mental dan fisik kami, cinta tanah air Indonesia, tentang perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran juga. Kami saat itu bertemu dengan teman-teman hebat dari segala penjuru Indonesia. Kami punya satu misi yaitu akan memberikan pelayanan terbaik untuk anak-anak Indonesia si Sabah Malaysia atau Mindanao Filipina.

IMG-20151105-WA005
Saat Pembekalan Pendidik Anak-anak Indonesa di Malaysia dan Filipina November 2015

Berikutnya keberangkatan kami ke Malaysia dilaksanakan di Jakarta bersama para pejabat penting di lingkungan Kemdikbud Jakarta. Kami, guru-guru Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), memakai stelan jas beserta sabuk berlogo garuda dan merah putih. Saat itu aku benar-benar tidak percaya kalau akan berangkat ke luar negeri (dekat seh, Malaysia. hehe…). Aku ingin mendapatkan pengalaman dari negeri seberang. Pengalaman yang tak akan terlupakan dalam sejarah hidupku.

IMG_20151111_202201.jpg
Keberangkatan Calon Pendidik Malaysia dan Filipina di Jakarta November 2015

Selanjutnya, 12 November 2015 menjadi momen bersejarah bagi kami. Aku menginjakkan kaki di luar negeri untuk kali pertama. Awalnya kami terbang dari Jakarta transit di Kualalumpur, kemudian lanjut ke Kota Kinabalu. Alhamdulillah kami bisa sampai di Malaysia dengan selamat. Kami bertugas mendidik anak-anak Indonesia di Sabah selama dua tahun sesuai dengan kontrak pertama kami dengan Direktorat Dikdas Kemdikbud. Selama dua tahun kami merantau di negeri seberang, di Sabah Malaysia. Dan cerita/pengalaman seru di luar negeri dimulai dari sini. Perantauan terjauh yang pernah ku lakukan di sini, di Negara Malaysia.

IMG_20151112_113902.jpg
Tiba di Kota Kinabalu International Airport November 2015
IMG_20151113_111140
Pendidik SILN beserta Pejabat Kemdikbud Saat Orientasi di Kota Kinabalu November 2015

Oke, demikian cerita saya dari awal merantau di Sumba Timur hingga merantau ke luar negeri (Malaysia). Merantau adalah sebuah pilihan setiap orang. Ada plus minusnya dari yang namanya ‘rantau’. Pasti ada suka duka di balik kisah hidup perantau itu. Yang terpenting adalah selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah SWT., menjalin hubungan yang baik dengan rekan-rekan pendidik Indonesia, beradaptasi yang baik dengan masyarakat sekitar, dan memberikan yang terbaik pada anak-anak Indonesia di Sabah Malaysia.

IMG_1774 (2)
Bersama Siswa CLC Genting Tanjung Juli 2016

The last but not the least, tetap rendah hati kapanpun dan di manapun kita berada.

DSC_0242
Keceriaan anak-anak Indonesia Maret 2016

Sekian, terima kasih. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Aamiin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s